Pages

Senin, 23 Desember 2013

KISAH AYAH, ANAK DAN SEEKOR KELEDAI




Pada zaman dahulu, ada seorang ayah dan anak pergi ke pasar untuk menjual seekor keledai. Di awal perjalanan, sang ayah dan anak naik keledai tersebut bersama-sama, sampai pada suatu tempat dimana banyak kerumunan orang disana. Salah seorang disana kemudian berkata, “Alangkah malangnya nasib keledai itu, tubuhnya yang kecil dinaiki oleh dua orang sekaligus”.

Mendengar perkataan itu, sang ayah kemudian turun sementara anaknya masih di atas keledai. Mereka kemudian berjalan lagi, hingga bertemu kerumunan orang lagi. Salah satu diantara mereka kemudian berkata, “Alangkah durhakanya anak tersebut, membiarkan ayahnya berjalan di siang terik seperti ini”.

Mendengar perkataan itu, si anak bergegas turun dan meminta ayahnya untuk naik ke atas keledai. Mereka pun melanjutkan perjalanan hingga bertemu kerumunan orang berikutnya, dan salah seorang diantara mereka berkata, “Betapa teganya orang tua ini, membiarkan anaknya yang masih kecil berjalan kaki sementara dirinya sendiri menaiki keledai”.

Mendengar perkataan orang ini, sang ayah kemudian turun dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan bersama anaknya dengan berjalan kaki.

Ketika mendekati pasar, mereka kembali bertemu dengan seseorang dan orang itu berkata, “Mengapa kalian berdua tidak memanfaatkan keledai itu, untuk apa kalian jalan kaki jika ada keledai yang bisa dinaiki ?”




1. Sesungguhnya kita tidak terlepas dari pembicaraan orang. Apapun yang kita lakukan walau itu benar mungkin saja dianggap salah. Tak akan ada habisnya jika kita memikirkan bagaimana pandangan orang lain terhadap apa yang kita lakukan karena orang lain akan selalu menemukan celah untuk dijadikan bahan pembicaraan.
Dalam hidup ini kadangkala ada orang yang tidak senang atau tidak suka dengan kita. Ketidaksukaan itu seringkali ditunjukkan dengan mengejek dan menghina. Seorang muslim harus sabar agar tidak menuruti keburukan mereka dengan membalas kemarahan yang berlebihan.

2. Dari kisah ini pula kita belajar tentang istiqamah ( memiliki pendirian yang kuat dalam memegang prinsip kebenaran ), karena dengannya seorang muslim tidak dilanda perasaan takut untuk membuktikan nilai kebenaran dan tidak berduka cita bila mengalami resiko yang tidak menyenangkan.

3. Setiap melakukan amal kebajikan baik perkataan maupun perbuatan ditujukan hanya kepada Allah semata. Jika kita memiliki jiwa yang ikhlas kita tidak dibelenggu oleh pengharapan akan pujian dan penghargaan juga tidak takut apabila menuai celaan dan cemoohan.

4. Seorang muslim haruslah memegang prinsip kebenaran dan menyerahkan segalanya hanya kepada Allah.